Radar 24jam

Radar Nusantara Group

Terbukti Dalam Surat Dakwaan JPU Terdapat Dua Nama Selain DI Pelaku Pembunuhan SS

Manokwari, radar24jam.com

Persidangan perkara dugaan pembunuhan berencana dan atau penganiayaan berat mengakibatkan matinya Sumiati Simanulang dengan tersangka “tunggal” DI akan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Manokwari, Senin (23/3) besok. 

Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy mengungkapkan selama “saya”  mengikuti persidangan pertama pada Senin, 16/3 dengan agenda pembacaan surat dakwaan (tuduhan) yang dibaca oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Benoni Kombado dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari. 

Pasalnya, Dalam dakwaan setebal 7 (tujuh) halaman tersebut, terdakwa DI didakwa dengan 2 (dua) dakwaan, yaitu dakwaan pertama melanggar pasal 340 KUH Pidana sebagai pembunuhan berencana secara bersama-sama dan dakwaan kedua melanggar pasal 338 KUH Pidana sebagai pembunuhan biasa. 

Di dalam surat dakwaan JPU jelas-jelas dicantumkan pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana yang mengandung pengertian bahwa terduga pelaku “pembunuhan” atau “penganiayaan berat” terhadap korban Sumiati Simanulang pada Maret 2020 adalah lebih dari 1 (satu) orang. Ucap Ch 

Terbukti dalam surat dakwaan saudara Jaksa Kombado dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari terdapat 2 (dua) nama selain terdakwa DI, yaitu Set Mandacan dan Jimi Tibiai. Sayang sekali keduanya disebut DPO (Daftar Pencarian Orang) oleh Polisi di Polres Manokwari selaku penyidik yang “diamini” Jaksa dalam dakwaannya.

Sementara penyebab terbunuhnya korban karena terdakwa “sakit hati” kian perlu dipertanyakan oleh Majelis Hakim yang dipimpin Sonny Alfian Blegoer Laoemoery, lantara HP korban bagai hilang ditelan bumi alias “hilang” dari olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh penyidik Polres Manokwari. Ungkap Ch 

“Yan” menanyakan Kemanakah jejak hp android dan hp biasa milik korban Sumiati Simanulang sejak 3 Maret 2020 ? Kian makin menimbulkan tanda tanya pula karena sesungguhnya jenasah korban Sumiati Simanulang hanya dilakukan pemeriksaan luar alias visum tanpa atopsi. 

Padahal beberapa waktu lalu polisi sempat mendatangkan dokter ahli forensik dari Makassar. Pertanyaannya, kenapa tidak dilakukan autopsi? 

Sehingga di dalam Visum Et Repertum jelas tertulis penyebab kematian korban belum dapat disimpulkan, karena hanya dilakukan visum semata dan belum dilakukan autopsi.

Sebagai Advokat berlatar belakang Hukum Pidana saya melihat ada 3 (tiga) hal menarik dalam awal persidangan perkara ini. 

Yaitu, pertama dimana gerangan hp milik korban Sumiati Simanulang? 

Kenapa hpnya tidak dimasukkan dalam daftar barang bukti? 

Kedua, kenapa sepeda motor milik korban saat korban mendatangi TKP sebelum “dihabisi” kok malah tidak dimasukkan juga ke dalam Barang Bukti perkara? 

Ketiga, jika benar korban dibunuh atau dianiaya hingga mati, kenapa tidak dilakukan autopsi terhadap jenasah agar memudahkan Majelis Hakim dan persidangan saat ini bisa dengan mudah menemukan kesimpulan mengenai sebab-sebab matinya korban Sumiati Simanulang. Sekaligus  untuk menemukan apakah di jasad korban terdapat bekas sidik jari pelaku-pelaku? Kata Warinussy.

Tuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *